Kebodohan (baca:kreatifitas) masa kecil

Bisa dibilang, aku sangat mengagumi televisi saat kecil. hampir bisa dipastikan setiap hari minggu, aku selalu bercokol setia di depan telelevisi. Entah utk menyaksikan kepaiawaian Ultraman Tiga yg dalam tiga fase warna dpt membasmi monster2 ja’at. Atau sekedar mengikuti ninja rantaro dg setia tanpa taw seting cerita apalagi pengembangan tokoh (krn emang ga ampe gitu bgt). Juga dg terkagum-kagumnya melihat doraemon mengeluarkan alat2 ajaib utk menyelamatkan nobita dr gangguan giant dan suneo. Ah,  menyenangkan sekali.

Sedikit banyak, kecanduan televisi itu membuatku menjadi seorang penghayal dadakan yg kontemporer dan penuh ide2 segar. Sekaligus menjadikanku aneh, nyentri, dan …………….ya aneh aja. tapi aku enggan untuk menyebutnya sebagai bakat.

Suatu pagi jam istirahat di SD Pondok Raggon 03 pagi, aku mengajak temanku, Nazar, jalan2 sebentar mengelilingi kelas kami yg ad d bagian sayap luar sekolah. Aku akan memberiatahunya sebuah rahasia besar yg akan menggemparkan dunia persilatan. sebuah rahasia yg memiliki konsekuensi yg besar dan tanggungjawab yg adidaya. Tanpa basa-basi tedeng aling2, aku membocorkan rahasia tersebut tepat di telinganya.

“Zar, gw sebenernya manusia abad 23 yg dikirim k zaman ini bwt mencegah umat manusia dr kehancuran.”

Dahsyat, para hadirin. Fujiko F Fujio baru telah lahir. teman ku itu hanya mengangguk-angguk sembari terus membulatkan mulut. “Ooooo..” Katanya.

Aku juga berpendapat bahwa di luar angkasa sana. Jauh d galaksi terpencil terdapat peradaban maju yg melebihi manusia. Aku menamai mereka bangsa Vetrm. Demikian sesuai dg bahasa yg mereka pakai. Aku juga berusaha mengadakan hubungan komunikasi dg mereka berkali-kali. Tapi kurasa tata bahasa Vtrm yg aku kuasai saat itu masih kurang sesuai dg majunya dialek mereka. Sungguh, aku benar2 menciptakan dialek2 terkutuk itu. Tapi yg kuingat sekarang hanya tulisan2 mereka saja yg masih sangat lancar kutulis namun terbata-bata utk membacanya.

Tibalah suatu hari, terjadi gerhana matahari sebagian yg tentu sahja langsung merangsang minatku untuk “menelitinya”. Dg berbekal teropong2an dr kertas buku PR bhs.ind, kreatifitas, dan akal yg sangat sehat, aku menoropong matahari dg teropong kertas tersebut yg ujungnya ku tutup dg kertas juga (Aku juga cukup akal untuk tahu bahwa menatap langsung matahari itu berbahaya). Setelah itu, kutulis sebuah skripsi, ah bukan, sekelas tesis mungkin tentang apa itu gerhana matahari, bagaimana terjadinya, dan macam2. kurang labih tulisan tsb sperti ini:

“Gerhana matahari terjadi karena dewa Arthur sang dewa surya membuka sisi tengahnya untuk memasukkan para arwah jahat ke neraka, ke pusat perutnya. Sedangkan arwah baik harus menunggu hingga gerhana bulan untuk bertemu dg dewi Mana di bulan”

Ayahku yg kuperlihatkan tulisan (tesis) itu setelah pulang sekolah, hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengelus-elus rambut ku. Baru saat dewasa kusadari bahwadalam pikiran ayahku saat itu adalah:”Apakah ada kenalanku yg tau psikiater terdekat yg dpt dibuatkan janji segera?”

besambung…….

Explore posts in the same categories: Kisah-kisah Masa SD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: