PROFESIONAL vs ETIS

Suatu saat saya mendengar wawancara seorang EO terkenal dalam sebuah acara d suatu radio. Ia adalah seorang EO yang telah cukup sukses mendatangkan berbagai artis-artis tersohor kaliber dunia ke tanah air. Yang paling saya ingat adalah ketika dia berkata bahwa dia mendatangkan artis-artis tersebut bukan berdasarkan selera musik pribadinya, melainkan berdasarkan selera pasar.

Beberapa dari kita mungkin memiliki tanggapan miring tentang perfilman tanah air dewasa ini (termasuk saya). Film-film yang terbit rasanya seperti kuang berbobot dan sedikit bahkan tidak memberikan nilai-nilai yang dapat kita ambil. Lalu, apa hubungannya dengan cerita saya tentang EO di atas?

Yang ingin saya katakan adalah, “itulah profesionalitas, kawan-kawan”. Semua berdasarkan pasar, bukan dilandasi oleh idealisme atau persepsi pribadi. Semua mengikuti apa yang diinginkan oleh orang banyak. Dengan kata lain, “yang memiliki nilai jual”.

Apakah hal itu buruk? Belum tentu. Profesionalitas justru menunjukkan wajah masyarakat suatu bangsa, kebiasaannya, hobinya, kegemarannya dan halauan seperti apa yang dianutnya. Walau film-film Indonesia sekarang ini banyak yang membuat saya muak, namun itulah yang diinginkan pasar. Itulah yang digemari masyarakat kita, masyarakat kalian……….

Profesional vs Etis

Explore posts in the same categories: selayang pandang

Tag: , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: